Oleh: Sahrin Hamid, Ketua Umum Gerakan Rakyat
Perjalanan ke Merauke adalah perjalanan untuk memahami Indonesia secara lebih utuh. Pada 11 Februari 2026 malam, kami bertolak dari Jakarta, menempuh perjalanan panjang dengan persinggahan di Jayapura sebelum akhirnya tiba di Merauke pada pagi hari. Setibanya di sana, terasa jelas bahwa Indonesia tidak hanya hidup di pusat-pusat kota besar, tetapi juga berdiri kokoh di ujung timurnya. Di wilayah inilah kedaulatan diuji dan martabat bangsa dipertaruhkan.
Merauke bukanlah daerah pinggiran yang sekadar dilihat sebagai batas peta. Ia adalah beranda depan negara. Cara kita membangun dan memperlakukan wilayah perbatasan akan mencerminkan keseriusan kita menjaga persatuan dan keadilan. Jika perbatasan tertinggal, maka ketimpangan akan menjadi ancaman jangka panjang bagi keutuhan nasional.
Sesampainya di Merauke, kami disambut dengan hangat oleh jajaran Gerakan Rakyat Papua Selatan. Semangat mereka menggambarkan optimisme yang tetap hidup di tengah berbagai keterbatasan. Kami kemudian mengunjungi Pasar Merauke, ruang ekonomi rakyat yang menjadi pusat aktivitas harian masyarakat.
Di pasar tersebut, mama-mama Papua berperan sebagai penggerak ekonomi keluarga. Mereka menjual hasil bumi dengan ketekunan dan daya juang tinggi. Dari buah-buahan hingga kebutuhan pokok, semuanya menjadi sumber penghidupan. Kami berbelanja dari beberapa pedagang sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perputaran ekonomi lokal. Namun dukungan simbolik saja tidak cukup. Ekonomi rakyat membutuhkan kebijakan yang berpihak—akses permodalan, stabilitas harga, dan perlindungan usaha kecil harus diperkuat.
Di sisi lain pasar, kami berdialog dengan sejumlah anak muda dan pekerja parkir yang menyampaikan aspirasi tentang keterbatasan ruang kerja. Mereka ingin kesempatan yang adil untuk bekerja dan berkembang. Mereka tidak meminta dikasihani, tetapi menuntut keadilan dalam akses ekonomi.
Hal ini menunjukkan bahwa potensi generasi muda Papua sangat besar, namun belum sepenuhnya terakomodasi dalam sistem pembangunan daerah. Pemerintah harus membuka lebih banyak lapangan kerja, memperluas program pelatihan keterampilan, serta memastikan kebijakan ekonomi bersifat inklusif. Tanpa itu, ketidakpuasan sosial akan terus membayangi wilayah perbatasan.
Perjalanan kami berlanjut ke kampung nelayan di pesisir. Para nelayan memperbaiki perahu dan mempersiapkan diri untuk melaut. Laut adalah sumber kehidupan, tetapi juga menghadirkan tantangan. Dengan dukungan yang tepat—mulai dari infrastruktur pelabuhan kecil, akses permodalan, hingga penguatan rantai distribusi—sektor perikanan dapat menjadi tulang punggung ekonomi Merauke.
Kami juga bertemu dengan anak-anak yang berkumpul di sebuah gubuk sederhana. Dengan penuh semangat, mereka menerima buku dan alat tulis yang kami bagikan. Pendidikan adalah fondasi perubahan. Anak-anak Merauke harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas. Tanpa pendidikan yang memadai, kesenjangan sosial akan terus berulang dan membatasi mobilitas generasi berikutnya.
Kunjungan kami berlanjut ke Kampung Payung, wilayah pesisir yang warganya secara swadaya menanam mangrove untuk menjaga pantai dari abrasi. Kesadaran lingkungan yang tumbuh dari masyarakat ini patut diapresiasi. Mereka memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan. Kami membeli 200 bibit mangrove dan menanamnya bersama warga sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian tersebut.
Langkah ini menegaskan bahwa pembangunan harus berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan. Tanpa keseimbangan ekologis, kesejahteraan ekonomi tidak akan bertahan lama. Keadilan sosial dan keadilan lingkungan adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.
Namun di balik semangat gotong royong tersebut, masih terdapat persoalan mendasar. Beberapa rumah warga belum memenuhi standar kelayakan. Fasilitas pendidikan dan pelayanan publik masih terbatas. Harapan masyarakat terhadap kehadiran sekolah rakyat mencerminkan kebutuhan nyata akan akses pendidikan yang lebih luas dan terjangkau. Pembangunan harus menjawab kebutuhan konkret, bukan sekadar menghadirkan proyek simbolik.
Saat berdiri di KM 0 Merauke, refleksi itu semakin mendalam. Titik ini bukan hanya penanda geografis, tetapi simbol bahwa Indonesia dimulai dari sini. Jika wilayah terdepan tertinggal, maka ketahanan nasional ikut tergerus. Perbatasan harus dipandang sebagai kawasan strategis yang memerlukan perhatian serius dan berkelanjutan.
Paradigma pembangunan perlu diubah. Perbatasan tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap kebijakan. Ia harus menjadi prioritas dalam perencanaan nasional. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah harus diperkuat untuk memastikan pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan perumahan berjalan secara terpadu.
Kehadiran negara harus diukur dari dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat. Apakah pemuda memiliki peluang kerja? Apakah anak-anak memperoleh pendidikan layak? Apakah keluarga tinggal di rumah yang aman? Apakah lingkungan tetap terjaga? Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan di wilayah perbatasan.
Dalam diskusi bersama jajaran Gerakan Rakyat Papua Selatan, kami menegaskan komitmen untuk terus mengawal kebijakan agar berpihak pada rakyat. Perjuangan tidak boleh berhenti pada kunjungan lapangan, tetapi harus diterjemahkan dalam advokasi yang konsisten dan terarah.
Pesan dari Merauke jelas: tidak boleh ada wilayah yang diperlakukan sebagai daerah kelas dua. Tidak boleh ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kedaulatan sejati bukan hanya tentang menjaga garis batas, tetapi memastikan masyarakat di dalamnya hidup dengan sejahtera dan bermartabat.
Indonesia akan kokoh jika perbatasannya kuat. Indonesia akan dihormati jika rakyat di wilayah terdepannya sejahtera. Oleh karena itu, membangun Merauke dan wilayah perbatasan lainnya adalah investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Kini saatnya menjadikan perbatasan sebagai poros kekuatan nasional. Dengan kebijakan yang berpihak, pembangunan yang merata, dan komitmen berkelanjutan, Indonesia dapat berdiri lebih tegak—dari pusat hingga ke ujung timurnya.